Ternyata Tidak Buta

Copy of PP5

Betel Zebua

Tak pernah terfikirkan olehku kalau itu hanyalah tameng untuk mencari duit.

Ya, hari itu saya mengantar teman dari Jakarta yang sudah tiga hari dikota kecilku Batam dengan sesuatu urusan. Setelah urusan antar teman selesai, saya pun keluar dari bandara dan hendak pulang kerumah. Namun, seperti biasanya dalam perjalanan pulang ke rumah, ada beberapa traffick light atau dikotaku tinggal, lebih populer jika disebut dengan lampu merah, yang harus kita lewati.

Ceritanya dimulai dari sini, disalah satu lampu merah pun saya terjebak dalam satu antrian yang panjang namun tidak sampai berkilo-kilo meter. Disaat-saat seperti ini, pengamen, pengemis, orang cacat, penjual koran, penjual rokok, menjalankan rutinitas-rutinitas mereka di tempat ini. Semua orang yang berhenti pun sepertinya sudah akrab dengan kondisi-kondisi ini. Dua orang menghampiri kendaraan yang saya bawa,…yang dalam benak saya mereka ini sudah berumur 40-50an tahun. Dengan baju yang sudah kumuh dan penampilan yang sangat membuat iba pun mereka lakonkan. Ibu yang didepan menggandeng ibu yang ada dibelakang yang sedang tidak bisa melihat (buta). Sambil mengulur-ulur tangan meminta sesuatu kepada setiap orang yang berhenti.

Namun satu hal nantinya sangat mengagetkan saya, beberapa pengamen dan pengemis kocar-kacir sambil melarikan diri, dalam hati “ada apa?”,”kok, orang-orang ini pada lari. Ternyata siang itu ada penertiban yang dilakukan Satpol PP di lampu merah dimana saya lagi antri. Mendengar teman-temannya satu profesi berteriak “ada satpol PP,…lari…ayo lari”…kedua ibu-ibu tadi pun saling melepaskan tangan dan langsung lari terbirit-birit menghindari razia.Ya, Tuhan dalam hatiku ibu yang buta ini kok dilepaskan tangannya, bukankah dia tidak bisa melihat? bagaimana jika nantinya dia jatuh ditengah-tengah kendaraan yang sedang antri dilampu merah ini?, namun pikiran saya itu meleset jauh, ibu yang buta tadi malah larinya kencang sambil meliuk-liuk menghindari beberapa kendaraan. Disini saya baru sadar…jangan-jangan dia ini tidak buta,..ya bener…ibu itu tidak buta, dia lari sekuat-kuatnya ketepi jalan dan mencari tempat untuk menghindari razia itu.

Lampu itupun berubah menjadi hijau, yang menandakan bahwa kami harus segera meninggalkan tempat ini dan berjalan lagi. Dalam kendaraan saya terus berpikir, kok masih ada sih orang-orang yang tidak menghargai dirinya yang sempurna diberikan oleh Tuhan? Tetapi hanya merekalah yang tahu jawabannya. Bukankah orang-orang yang secara fisik lemah (cacat) malah meminta pada Tuhan untuk memulihkan dia? Tetapi yang barusan saya lihat dan alami sebaliknya, kesempurnaan secara fisik yang diberi Tuhan di jadikan cacat dan lemah oleh dia sendiri. Bagaimana kalau Tuhan benar-benar tersinggung dengan dia? bagaimana kalau Tuhan mencabut kesempurnaan itu dan dijadikannya tidak sempurna seperti yang mereka lakonkan barusan? Saya tidak tahu, saya hanya ingin menjaga dan memelihara apa yang telah Tuhan beri bagi saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s