“Falafu” Bermain Batu Ala Nias

BUDAYA – NIAS

IMG_4441

Apolonius Lase

Permainan tradisional ini tidak saja dimainkan oleh anak-anak yang umumnya laki-laki, tetapi orang dewasa hingga orangtua  pun bisa memainkannya. Anak perempuan pun bisa ikut bermain. Peralatan yang digunakan pun sangat sederhana. Setiap peserta mencari batu seukuran mangga. Disarankan, batu lebih baik berbentuk bulat atau agak lonjong, pipih dengan ketebalan sekitar 5 sentimeter. Tempat permainan pun cukup memanfaatkan halaman rumah. Lebih dianjurkan dilakukan di lapangan tanah.

Peserta permainan dibagi dua regu. Setiap regu harus sama jumlahnya. Kemudian setiap peserta memilih pasangan lawan. Biasanya disesuaikan dengan ukuran tubuh. Peserta dengan tubuh kecil sebaiknya dipasangkan dengan peserta lawan yang hampir sama. Demikian juga dengan peserta bertubuh besar, sebaiknya berpasangan dengan peserta lawan yang bertubuh besar.

Syarat ukuran tubuh ini sangat penting karena berpengaruh pada hasil lomba. Regu yang kalah harus menggendong regu yang menang. Seru kan…

Cara Memainkan

Sebelum memulai permainan, kedua regu menyepakati garis start yang dibuat dengan menggoreskan garis lurus menggunakan ranting kayu di tanah. Dari garis inilah setiap peserta memulai permainan. Kemudian, satu garis lagi, sebutlah garis finis, yang juga tempat batu-batu diletakkan dengan jarak sekitar 5 meter dari garis start atau sesuai kesepakatan bersama. Satu garis lagi, biasa disebut garis serang, sekitar satu meter dari garis start. Garis serang ini digunakan untuk tempat menyerang.

Setelah itu, permainan pun dimulai. Semua peserta berdiri tepat di belakang garis start dengan batu masing-masing di tangan dan dipersilakan melemparkan batunya ke garis finis. Batu yang tepat jatuh yang paling dekat dengan garis finis dinyatakan sebagai regu yang berhak memulai permainan lebih awal, yakni menyerang batu lawan.

Peserta regu yang kalah pun menjadi regu yang diserang. Mereka harus mendirikan batu masing-masing dengan menanamnya di tanah tepat di garis finis.

Setelah semua batu ditanam, tahap pertama adalah setiap peserta regu yang menyerang bersiap tepat di garis serang dengan meletakkan batu di atas punggung kaki kanan atau kaki kiri, menurut kebiasaan masing-masing. Batu tersebut lalu disasarkan ke batu pasangannya dengan mengayunkan kaki sehingga batunya terempas dan mengenai tepat di batu lawan. Batu lawan harus rebah atau keluar lubangnya. Bila ada peserta yang tidak berhasil, peserta yang berhasil bisa membantu sehingga batu lawan tersebut hingga terjatuh.

Peserta yang sudah merebahkan batu lawan akan melanjutkan ke tahap kedua. Tahap kedua ini, batu lawan kembali ditanamkan di lubang sebelumnya. Regu penyerang pun kembali berdiri di garis start lalu melemparkan batunya hingga mengenai batu lawan. Bila batu lawan langsung terjatuh, peserta tersebut dinyatakan telah menyelesaikan tahapan permainan.

Namun, bila batu yang dilempar tersebut tidak mengenai batu lawan (meleset), peserta tersebut harus menjatuhkan batu lawan dari posisi batu itu terlempar. Cara menjatuhkannya pun ada syaratnya, yakni melemparkan batunya ke arah batu lawan dengan posisi kayang. Bagian permainan ini biasanya sangat seru dan menjadi ajang adu keluwesan tubuh.

Ada catatan yang perlu diperhatikan, bila batu penyerang tidak kena pada batu lawan, tetapi jarak batu itu berdekatan, tidak perlu dijatuhkan dengan cara kayang. Penyerang cukup meletakkan tumit kaki tepat pada posisi batunya kemudian menyenggol batu lawan dengan bagian kaki sebelah dalam hingga batu lawan rebah dan penyerang pun dinyatakan menang.

Sama seperti sebelumnya, bila ada anggota regu yang belum berhasil menjatuhkan batu lawan pada tahap kedua, anggota lainnya yang sukses bisa membantu.

Tahap selanjutnya, setelah semua batu lawan terjatuh, adalah tahap menikmati hasil. Regu yang kalah harus menggendong regu yang menang mulai dari garis start menuju ke garis finis dan kembali lagi ke garis start. Bagian ini biasanya menjadi puncak keriaan dari permainan ini. Para peserta biasanya dilingkupi dengan suasana hati yang penuh sukacita. Permainan pun dimulai dari awal lagi.

Sudah Punah

Sangat disayangkan, permainan tradisional ini sudah jarang dimainkan oleh masyarakat Nias bahkan bisa dikatakan sudah punah. Padahal, selain peralatannya yang sangat sederhana, murah, dan mudah didapatkan, permainan ini juga secara tidak langsung memberikan manfaat pada perkembangan kejiwaan, mental, jasmani, dan hubungan sosial positif bagi setiap pesertanya.

Dari sisi sosial, permainan ini memupuk keeratan hubungan antara setiap peserta. Ada interaksi sosial yang positif, saling kenal satu sama lain, saling membantu yang lemah dan semangat gotong royong sangat kental.

Kemudian, lewat permainan ini, pesertanya juga secara tidak langsung belajar berkonsentrasi dan fokus ketika melakukan serangan.  Ada kalanya peserta gagal dan juga berhasil. Dari kondisi itu, peserta tersebut diajarkan bahwa dalam kehidupan nyata sering hal yang sama terjadi. Tidak setiap usaha membuahkan hasil yang maksimal. Kondisi itu biasanya membuat yang bersangkutan menjadi lemah dan putus asa. Lewat falafu, peserta tengah dipersiapkan mentalnya untuk terbiasa menerima kekalahan dan terbiasa melihat keberhasilan sebagai hasil dari sebuah proses atau usaha.

Selain itu, lewat permainan falafu, setiap peserta diajarkan bermusyawarah dan menghargai serta patut pada hasil musyawarah atau kesepakatan yang dibuat secara bersama-sama.

Lewat tulisan sederhana ini, saya mengimbau agar kita menghidupkan kembali permainan tradisional falafu ini. Instansi sekolah bisa menjadi penggerak agar permainan falafu bisa kembali ke pangkuanOno Niha.

Penulis : Apolonius Lase (Wartawan Kompas dan Penulis Buku)

4 thoughts on ““Falafu” Bermain Batu Ala Nias

  1. Permainan ini sekrang memang langka kita jumpai dan hampir seluruh daerah pedalaman nias kemungkinan tidak ditemukan lgi. Mengapa, seiring dgn perkembangan dunia anak-anak, mereka tidak menarik minat bermain ala ” Lafu “, karena permainan ini rentan dengan r3siko, kaki bisa patah, paling tidak luka memar di kaki anak-anak, itu sebabnya kebanyakan juga orang tua melarang anaknya bermain ala “lafu ” ini. Karena alatnya terbuat dari batu kurang lebih bobot  500 gr sd 1000gr,ala lafu juga ada manfaat bagi perkembangan otot anak, melatih kaki terbiasa angkat yang berat, tapi ini perlu pembuktian lagi secara medis. Jadi akhir comment saya, perlu kita adakan lomba  “lafu” sqnzeb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s