Siapa Yang Salah, Jika Anak 15 Tahun Sudah Jadi Mucikari

Anak berumur 15 tahun sudah jadi “mucikari”, Siapa yang salah?

Umur segini biasanya masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Waktu mereka pun terbagi sebagian disekolah dan selebihnya dirumah bersama orang tua. Peranan Guru dan perangkat sekolah lainnya sangat berpengaruh bagi perkembangan si anak selain peranan dominan dari orang tua. Jika kedua alat kontrol ini tidak bekerja maksimal maka perkembangan si anak pun susah dideteksi.

Baru-baru ini kejadian yang menghebohkan Indonesia, terjadi di Surabaya-Jawa Timur. Siswi SMP 15 tahun sudah menjadi mucikari handal. Menurut informasi berita-berita di beberapa media nasional targetnya adalah teman-temannya sesama siswi disekolah. Modusnya pun tergolong elit, anak seusia itu sudah bisa menjadi negosiator ulung kepada orang-orang yang jauh diatasnya.

Saya tidak membahas lebih jauh kronologi kejadian dan peristiwanya, tetapi sedikit saya ingin mengupas letak kesalahannya disisi mana.

Peranan Guru dan Perangkat Sekolah 

Sekolah dan guru adalah sisi yang paling bertanggung jawab terhadap perkembangan ana-anak diusia yang masih relatif sangat muda ini. Kenapa saya sedikit mengklaim, hal ini disebabkan durasi pergaulan anak-anak dengan teman sebaya ada dikomunitas ini.  Barangkali semua orang tahu, bahwa sekolah bukan hanya sekedar menimba ilmu coret mencoret, tetapi juga menjadi salah satu tempat untuk mendidik anak-anak dari sisi psikis, perkembangan pergaulan serta cara bersosial dengan positif. Sekolah juga merupakan tempat konseling yang efektif buat perkembangan anak. Di komunitas ini ada ruang khusus bagi anak-anak dalam mendeteksi perkembangan psikis secara universal. Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah bukan hanya sekedar memberi tindakan jika siswa tidak memakai atribut sekolah dengan lengkap. Sesungguhnya Bimbingan Penyuluhan itu harus bernilai lebih khususnya mendeteksi kadar psikis anak-anak sekolah sudah sejauh mana. Nah, jika sekolah dan perangkatnya tidak memaksimalkan hal ini, maka terjadilah hal-hal aneh bagi setiap muridnya. Tidak terkecuali kasus seperti di atas, sekolah punya andil yang cukup besar dalam hal ini, sekolah tidak efektif menjalankan fungsinya sebagai alat bagi perkembangan anak-anak, baik dari sisi ilmu maupun dari aspek peningkatan dan pendeteksi nilai-nilai kejiwaan anak-anak di komunitasnya.

Peranan Orang Tua

Lain halnya dengan sekolah, orang tua adalah “Master Tool” bagi anak-anaknya. Semua aspek merupakan tanggung jawab orang tua. Jika disekolah anak-anak dididik untuk pintar, belajar dan sebagainya, maka dirumah anak-anak merupakan perhatian penuh para orang tua. Beberapa faktor yang bisa menyebabkan kurangnya kontrol bagi anak-anak setelah keluar dari komunitas sekolah. Kesibukan orang tua yang tidak punya durasi waktu bagi anak-anaknya. Masalah ekonomi yang menyebabkan orang tua tidak bisa memberi penuh permintaan anak-anaknya. Dan masih banyak lagi hal-hal yang memungkinkan kurangnya tindakan pengawasan bagi anak-anak. Namun apapun itu faktornya seharusnya orang tua memberi penjelasan logis bagi anak-anak sehingga setiap anak pun mampu menerima dengan senang hati. Tetapi hal-hal yang kurang senonoh atau lebih ekstrim lagi jika dikatakan, hal-hal yang melampaui batas logika berpikir manusia akan dilakukan si anak, jika orang tua tidak mampu memberi penjelasan tentang hal-hal yang seharusnya layak dia beri bagi anak-anaknya.

Di akhir tulisan ini saya memberi himbauan kepada para orang tua dan komunitas sekolah. Efektifkanlah skema Bimbingan Penyuluhan secara simultan bagi setiap peserta didik disekolah, sehingga kadar kontrol serta pengawasan psikis mereka bisa dideteksi semaksimal mungkin, yang mampu menjauhkan mereka ke hal-hal yang kurang senonoh dan kurang etis. Bagi para orang tua agar mewaspadai setiap gerak-gerik anak-anak, jangan sibuk terus dengan karir dan usaha, bukan berarti orang tua tidak boleh berkarir, namun ini bermaksud bahwa sesibuk apapun, semiskin apapun, dan apapun alasan yang lain, jaga dan awasi anak-anak, berilah perhatian bagi mereka, beri penjelasan bagi mereka, sehingga mereka benar-benar sadar dan mengerti keadaan dan kondisinya.

Intinya adalah transparansi, keterbukaan, dan bicaralah dengan hati bagi anak-anak yang relatif masih labil dalam tingkat berpikir.

By : Betel Zebua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s